Satwa-Satwa Purba di Sulawesi

Satwa-Satwa Purba di Sulawesi

Satwa-Satwa Purba di Sulawesi Yang Masih Hidup

Satwa-Satwa Purba di Sulawesi – Temuan dia mencengangkan karena ada satwa endemis yang hanya bisa ditemukan di wilayah ini–tak ada di belahan bumi lain. Diapun membagi letak geografi satwa antara wilayah barat dan timur Indonesia.

Pada 1859, Wallace menerbitkan makalah tentang pembagian dan penyebaran satwa di Indonesia, satu di timur lain di barat.

Pada 1867, ahli anatomi, Thomas H Huxley, menyebut, pembagian ini sebagai garis Wallacea, bagian utara Sulawesi dibatasi selat Makassar–antara Kaliamantan dan Sulawesi dan bagian selatan memisahkkan Bali dan Lombok.

Satwa purba Sulawesi yang punah

Satwa Sulawesi yang punah, salah satu gajah purba (Elephas celebensis). Fosil satwa ini diperkirakan hidup 2,5 juta tahun lalu (Pleistosen Awal-Pleistosen Tengah). Temuan fosil gajah kerdil ini merupakan ikon dari Lembah Wallanae dan Sulawesi umumnya.

Tak banyak tahu tentang satwa ini padahal endemik Sulawesi.

Gajah ini sangat spesifik, karena memiliki empat gading, masing-masing dua tumbuh pada rahang atas, dan dua di rahang bawah. Diperkirakan individu ini keturunan langsung gajah yang hidup di dataran Asia dan Timur Tengah pada Pleistosen Akhir dan Pleistosen Awal.

Secara fisik, perkiraan bentuk menyerupai gajah modern–gajah saat ini–namun berukuran lebih kecil. Tinggi hanya 1,5 meter dan menempati habitat mangrove di pesisir pantai.

Kini fosil hasil temuan itu, seperti tengkorak dan 58 buah fragmen bagian gajah ini, tersimpan di Lembaga Purbakala Jakarta dan lainnya di Geological Reaserch and Development Center (Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi) di Bandung.

Pada perkiraan usia sama, ditemukan pula babi purba (Celebochoerus heekereni). Satwa ini ditemukan pada lapisan-lapisan tua, dan tak berlanjut pada masa lebih mudah. Pada rentang hidup fauna ini tak ditemukan jenis babi lain, yang diperkirakan terpisah dari keluarga babi kini.

National Geogrpahic Indonesia edisi Juli 2009, mempublikasikan hasil rekonstruksi, dengan moncong babi (modern), namun memiliki taring menonjol ke samping hingga mirip tanduk. Tubuh dipenuhi bulu-bulu lebat.

Rekonstruksi itu didasarkan fragmen-fragmen yang tersebar, seperti tengkorak, molar, premolar, dan canin (taring). Dari temuan itu, para peneliti menyimpulkan ada perbedaan paling mendasar dari rahang bawah yang menyerupai huruf “U.”

Ciri paling nyata pada jantan adalah taring atas berkembang sangat maju, melebar ke samping hingga menyerupai tanduk dengan lengkungan besar.

Kura-kura ini menempati habitat dan lingkungan rawa terbuka, seperti mangrove dan muara sungai. Setiap individu kura-kura dewasa ini ukuran bisa tinggi satu meter, panjang 1,5 meter.

Ada juga buaya purba (Crocodylus sp), temuan fosil buaya purba di Lemba Wallanae Sulawesi Selatan, cukup banyak.

Berdasarkan ukuran dari spesimen rahang dan gigi, jenis ini diperkirakan sama dengan buaya muara, menghuni wilayah rawa dan mangrove.

Di tempat ini pula ditemukan jenis Gavalis sp, buaya predator bagi hewan darat berukuran kecil, yang mengindikasikan ada sungai berarus.