Hewan Langka yang Sering Diperdagangkan

Hewan Langka yang Sering Diperdagangkan

Hewan Langka yang Sering Diperdagangkan

Hewan Langka yang Sering Diperdagangkan – Sumber daya alam di Bumi kian menipis, namun manusia terus mengeruk pasokan yang ada tanpa ampun. Kontribusi ini dinilai bisa membahayakan hewan yang ada di dunia, sehingga menyebabkan undang-undang konservasi disahkan untuk melindungi berkurangnya satwa liar.

Sayangnya, hewan yang paling langka adalah hewan yang paling banyak diburu, sebab harganya di pasar jauh lebih mahal ketimbang yang lainnya –meski ilegal dan melanggar hukum.

Dengan demikian, langkah-langkah perlindungan terhadap binatang tersebut mungkin harus dibebankan kepada para penyelundup spesies langka yang tidak pernah puas.

Ada banyak faktor mengapa suatu spesies hewan terancam atau mengalami kepunahan, seperti kerusakan habitat, perburuan liar, dan perdagangan hewan. Adapun, penyebab utama hal tersebut adalah ulah manusia.

Hewan banyak diburu dan diperdagangkan untuk berbagai alasan, mulai dari dimakan, dijadikan obat, hingga perhiasan.

Trenggiling (Manis), banyak diperdagangkan untuk dijadikan obat

Trenggiling jadi hewan yang paling banyak diperdagangkan di dunia. Hewan ini dikenal sebagai mamalia pemakan semut dan rayap dengan sisik kulit yang khas.

Saat terancam, mereka akan meringkuk dan menjadi bola. Sayangnya, hewan ini banyak diperdagangkan, salah satunya untuk pengobatan tradisional Tiongkok. Selain itu, dagingnya pun banyak diminati.

Harimau

Harimau kerap diperdagangkan secara ilegal untuk diambil bulu dan tulangnya. Meskipun binatang buas ini kerap dipuji sebagai “Raja Rimba”, namun harimau masih menjadi target besar perburuan liar oleh orang-orang tak bertanggung jawab.

Mitos yang berkembang di tengah masyarakat awam, konon tulang harimau bisa sangat berkhasiat sebagai obat, tak terkecuali cakar dan darahnya.

Tragisnya, takhayul semacam ini telah membuat jumlah harimau liar menurun drastis ke level terendah sepanjang masa, sekitar 3.000 ekor.

Jumlah mereka yang minim tersebar di berbagai negara seperti Rusia, India, dan Malaysia, sementara juga ada di China, Nepal, dan Bangladesh di antara negara-negara Asia lainnya. Gerombolan penjahat yang terorganisir sering kali menjual bagian-bagian tubuh harimau yang dibantai dan kulit mereka ke pasar Asia.

Untuk memerangi ini, inisiatif konservasi seperti Traffic, yang menggagas International Tiger Day setiap 29 Juli, memberikan literasi kepada masyarakat awam mengenai ‘haramnya” perburuan harimau.

Jalur teknologi pun ikut diambil, termasuk bekerja dengan pemerintah India untuk menciptakan Tigernet, yang membantu melacak dan menangkap pemburu gelap.

The Wildlife Protection Society of India juga membentuk sistem bagi informan untuk menyerahkan pemburu dengan imbalan uang tunai dan juga mempekerjakan informan yang berpengalaman.

Badak afrika (Diceros bicornis longipes), untuk menyembuhkan banyak penyakit

Satu dekade yang lalu, perburuan badak hanya sekitar 13 per tahun di Afrika Selatan. Mirisnya, pada 2017 angkanya mencapai 1.028 atau meningkat hingga 9 ribu persen.

Mereka diburu untuk diambil tanduknya, terutama di Asia. Mereka pun dianggap ampuh untuk mengobati beragam penyakit, mulai dari mabuk hingga kanker.

Gajah afrika (Loxodonta), banyak diburu sekadar untuk gadingnya

Larangan perdagangan daging memang telah ada sejak 1990. Hanya saja, perburuan masih terjadi hingga sekarang.

Sekitar 30 ribu gajah diburu setiap tahunnya. Dikhawatirkan mereka akan punah dalam waktu dekat.