Hewan langka dijadikan obat

Hewan langka dijadikan obat

Hewan langka dijadikan obat

Hewan langka dijadikan obat – Selain kelelawar yang populer dijadikan obat dan makanan di China, tulang singa pun diburu di sana untuk dijual sebagai obat hingga olahan wine.

Meski tidak sepopuler kelelawar atau trenggiling, tapi ternyata banyak orang yang diam-diam menyelundupkan singa untuk diambil tulangnya dan dikirim ke China. Hal ini diketahui dari banyaknya peternakan singa di Afrika Selatan yang membunuh ratusan singa.

Kasus perburuan satwa-satwa langka di tanah air seperti tidak ada hentinya. Padahal para pemburu monyet, harimau, gajah dan kura-kura di beberapa daerah sudah ditangkap dan dijebloskan ke penjara.

Di sisi lain, sanksi ancaman hukuman juga sudah ada, seperti diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Konservasi Sumber Daya alam dan Ekosistem.

Alasan perburuan hewan-hewan langka itu juga beragam. Mulai dari sekadar untuk dimakan, dijadikan koleksi hiasan, hingga digunakan sebagai obat. Misalnya adonan daging harimau kering yang konon bisa digunakan sebagai obat kuat.

Begitu juga dengan kuku kucing besar ini. Katanya bisa digunakan sebagai campuran obat China. Selain harimau, masih ada beberapa satwa langka lain diburu untuk dijadikan obat.

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa tulang singa menjadi barang berharga yang dikirim ke China dan beberapa negara di Asia Tenggara untuk mencukupi permintaan pasar. Biasanya tulang-tulang singa ini digunakan sebagai obat tradisional yang dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit.

Bahkan banyak juga yang membuat tulang-tulang singa ini menjadi minuman seperti wine hingga perhiasan eksotik yang berharga fantastis.

Beberapa singa sering diambil tulangnya dalam keadaan hidup-hidup, tujuannya agar warna tulang lebih berwarna kemerahan dari darah yang menempel. Jenis tulang berwarna merah ini harganya bisa mencapai £3,200 (Rp 56,7 juta) untuk kerangka satu ekor singa.

Trenggiling

Penyelundupan trenggiling (manis javanicus) ini beberapa kali terjadi di negeri ini. Paling anyar kasus penyelundupan 35 trenggiling di Kuantan Singingi (Kuansing) beberapa waktu lalu. Polisi menangkap dua orang dalam kasus ini.

Penyelundupan trenggiling marak sejak tahun 2005 setelah ada cukong dari Malaysia yang bersedia menampung berapapun trenggiling dari para pengepul dan warga sekitar. Harga trenggiling mahal, daging dan sisiknya juga laku dijual.

Konon, daging dan hati trenggiling untuk makanan istimewa di restoran China. Empedu untuk obat sedangkan kulit dan sisik untuk obat, kosmetik, dompet, tas dan kancing baju.

Kuku beruang untuk obat

Entah benar atau tidak, beberapa alasan perburuan beruang juga digunakan untuk obat. Misalnya kasus yang menimpa dua prajurit TNI di Aceh beberapa waktu lalu yang dihukum penjara karena terbukti menyimpan harimau dan beruang yang diawetkan.

Mahkamah Militer (Mahmil) di Banda Aceh memvonis Serka Jaka Rianto dan Praka Rawali B masing-masing dua dan tiga bulan kurungan.

Di persidangan, salah satu tersangka, Jaka Rianto, mengaku menyimpan offset tersebut bukan untuk koleksi, melainkan untuk pengobatan alternatif dikarenakan istrinya sedang sakit.

“Tersangka Jaka Rianto itu menyimpan offset harimau dan beruang untuk mengobati istrinya yang sedang sakit, karena menurut penjelasan saudaranya, istrinya bisa disembuhkan dengan adanya kuku beruang dan kulit harimau di rumahnya,” kata Hakim Budi Parnomo.

Gading gajah untuk obat China

Sama halnya dengan kasus-kasus perburuan gajah di Sumatera. WWF melansir data-data kasus perburuan Gajah Sumatera. Pemburu itu juga menargetkan gajah liar untuk memperoleh gading mereka yang digunakan untuk campuran obat-obatan tradisional China.