Habitatnya Rusak Populasi Orangutan Kalimantan Terancam Punah

orang utan

Habitatnya Rusak Populasi Orangutan Kalimantan Terancam Punah

Habitatnya Rusak Populasi Orangutan Kalimantan Terancam Punah – Ini adalah kehidupan yang dijalani para investigator kejahatan alam liar Indonesia. Selama 10 tahun terakhir mereka telah menyelamatkan ratusan orang utan yang di tangkap dan di perjual belikan secara ilegal kepada pembeli dengan harga tertinggi.

Di 2019, kondisi orangutan Kalimantan, bukannya semakin baik tapi malah memburuk. Jika sebelumnya status populasinya genting, kini keberadaan orangutan di Kalimantan memasuki tahap kritis.

Mereka bertemu dengan petunjuk tersembunyi di kafe, pasar, dan kadang-kadang di rumah mereka. Kemampuan sosial aplikasi idn poker apk versi terbaru mutlak perlu; Anda haruslah seorang yang suka mengobrol agar orang terbuka bercerita mengenai para penculik di lingkungan mereka.

Para penyelidik telah membangun sebuah jaringan informan. Mereka secara rutin menerima petunjuk rahasia bahwa telah terjadi penculikan lain.

Tetapi tindakan ini bisa membahayakan. Ketika korban penculikan diselamatkan, para kriminal seringkali mencari tahu siapa orang yang telah melacak mereka, dan berupaya untuk membalas dendam. Untuk melindungi diri mereka, seluruh penyelidik memiliki cerita penyamaran, dengan cermat disusun dengan cermat untuk membantu mereka berbaur.

Hilangnya Habitat OrangUtan Kalimantan

“Dulu kita bisa bilang Kalimantan masih aman. Populasinya antara 35.000-55.000. Tapi setelah survei naik lagi (keparahannya), sekarang sama dengan Sumatera, kritis,” kata pakar orangutan Universitas Indonesia Rondang Siregar ditemui di Jakarta Pusat, Rabu (3/7/2019).

Status kritis atau critically endangered ini ditetapkan oleh International Union for Conservation of Nature. Orangutan Sumatra telah lebih dulu menyandang status ini.

Penyebab jatuhnya populasi orangutan, kata Rondang, masih masalah klasik. Hidup orangutan terancam sebab habitatnya dirampas untuk kepentingan manusia.

Pada tahun 2017 saja, laju deforestasi masih di kisaran 97.000 hektar. Deforestasi membuat habitat orangutan terfragmentasi.

“Karena terpotong-potong akhirnya keluar dan berkonflik dengan manusia,” ujar Rondang.

Di Kalimantan, perburuan dan perdagangan satwa liar juga marak dilakukan. Padahal, orangutan sudah jelas dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekososistemnya.

“Dulu harganya Rp 500.000 pas keluar hutan. Kalau sudah di pelabuhan, stasiun, terminal, bisa sampai jutaan. Pasti ada saja,” kata Rondang.

Akibat kehilangan habitat dan perburuan liar, populasi orangutan menurun drastis hingga 50 persen selama 20 tahun terakhir.

Sumber : nationalgeographic.grid.id